Minggu, 29 Maret 2009

Tipe Pesepeda Manakah Anda?

Jika Anda sedang gemar menggowes, barangkali ini saat yang tepat bagi Anda untuk lebih mendalami 'fakultas persepedaan'. Maksud kami, jika urat takut Anda sudah putus... mungkin Anda bisa memilih fakultas free ride -ketika Anda senang bersalto ria, melompat-lompat semacam bunny hop, dan sebagainya. Atau tetap dengan jalurcross country yang risikonya kecil? Apapun pilihannya: Nikmatilah. Kini, kami mencoba menawarkan beberapa jenis sepeda yang barangkali tepat untuk sarana belajar di 'fakultas' yang Anda tuju:


1. Sepeda Gunung/Mountain Bike (MTB)

Sepeda gunung dicirikan dengan body sepeda yang relative lebih besar dan terlihat kokoh ditambah dengan ukuran ban sepeda yang lebar dan tapak ban yang kasar. Sepeda MTB ini bisa dikelompokkan dalam 4 kategori:

a. Cross-Country (XC)
Sepeda gunung ini didesain untuk jalan-jalan 'liar' (kombinasi jalan on-road dan off-road) dengan tingkat kesulitan mudah hingga menengah. Selain dirancang untuk melibas tanjakan, sepeda ini juga nyaman dipakai melahap lintasan menurun. Tipe ini biasanya lebih kokoh dibanding tipe sepeda gunung lainnya. Beratnya tergolong paling ringan diantara kelas sepeda yang lain, yaitu antara 17-25 pounds. Diameter roda biasanya menggunakan ukuran 26. Ciri lain dari sepeda XC adalah ukuran ban yang lebar, dengan permukaan ban sedikit kasar untuk mencengkeram permukaan jalan yg gak rata.
Ciri yang lain adalah tinggi dari leher suspensi depan yang berkisar antara 80 – 120mm. Sepeda gunung XC biasanya dibagi dalam dua sub-tipe -merujuk pada sistem suspensinya.

1. Hardtail
Ini adalah sepeda gunung tanpa suspensi belakang yang terintegrasi dengan bodi sepeda. Suspensi hanya ada di bagian depan saja. Meski begitu, tingkat kenyamanannya masih bisa ditingkatkan dengan melakukan penyesuaian atau penggantian pada garpu (fork) depannya. Biasanya, sepeda hardtail-suspension memiliki bobot lebih ringan ketimbang full-suspension. Satu kelebihan hardtail-suspension dibanding full-suspension bisa Anda dapatkan ketika memacunya dengan cepat -Anda tak akan banyak membuang energi. Memulai bersepeda gunung dengan sepeda tipe ini merupakan langkah awal yang bagus. Mengapa? Jelas jawabannya. Anda memiliki sepeda berbobot lebih ringan dan tahan lama.

2. Full-Suspension
Ini adalah sepeda gunung dengan dua suspensi -di bagian depan dan belakang. Pola suspensinya memiliki kemiripan dengan motor. Sepeda full-sus ini biasa digunakan untuk melibas mendan2 offroad yang extreme seperti untuk downhill dll. Sepeda ini biasanya menggunakan teknologi yang canggih dalam hal suspensi dan material sepedanya,.. sehingga biasanya harganya pasti Muahaal...

b. Allmountain/Trailbike (AM)
Pada dasarnya, tipe sepeda gunung ini adalah hasil modifikasi sepeda gunung XC yang dilengkapi sistem suspensi lebih lembut untuk menaklukkan medan dan rintangan yang lebih berat. Satu-satunya kelemahan tipe ini terletak pada upaya untuk mengayuh pedal, yang membutuhkan usaha lebih banyak dari pengendaranya karena penambahan panjang suspensi.
Panajng leher suspensi depan jenis ini mulai 120 mm keatas. Sehingga terkesan posisi stang menjadi tinggi. Jenis ini dirancang untuk mampu melintasi medan bebatuan, tanah pegunungan maupun batuan lepas dengan nyaman pada kecepatan relatif tinggi dibandingkan dengan jenis XC. Berat keseluruhan sepeda berkisar 25-32 pounds.

c. Downhill (DH)

Sepeda gunung ini didesain khusus untuk menuruni lintasan yang curam. Tipe ini memiliki suspensi depan yang jauh lebih panjang dan lebih besar/kuat ketimbang sepeda gunung tipe lain. Sebagai dampaknya, sepeda gunung tipe ini biasanya memiliki bobot lebih berat dibanding yang lain. Di lintasan yang menurun, sepeda gunung ini mampu melesat seperti angin. Tapi di jalur menanjak, sepeda gunung ini susah diajak kompromi.

d. Freeride/Freestyle

Sepeda jenis ini rata-rata memiliki ukuran geometri lebih kecil dibandingkan XC, AM maupun DH. Sepeda ini dikhususkan untuk melakukan manuver-manuver extreme seperti melompat tembok, menuruni tangga, standing, jungkir balik, salto dll. Karena penggunaannya untuk hal-hal menantang di kawasan perkotaan, jenis ini tidak nyaman untuk dipakai bersepeda jarak jauh karena ukuran geometri yang biasanya dipilih ukuran kecil dan posisi sadel yang rendah.

2. Road race

Sepeda jenis ini khusus hanya boleh dan bisa melewati jalan raya, beraspal dan rata. Ciri khasnya, diameter roda lebih besar dari MTB (ukuran 27 atau 700c). Karena digunakan untuk balapan (road race), sepeda ini tergolong sepeda paling ringan dari seluruh jenis sepeda, dengan bahan yang digunakan mulai aluminium ringan hingga serat carbon.

3. Sepeda Hybrid

Namanya saja hybrid, pasti perpaduan dari minimal 2 tipe/model sepeda. Sepeda hybrid menjadi salah satu jenis sepeda yang sekarang cukup digandrungi karena modelnya yang keren, cukup ringan dan enak dikendarai. Ciri khas utama sepeda ini ada pada model stang yg tidak melengkung ke bawah (model balap) atau melengkung ke atas (model MTB), tapi menggunakan model stang yg lurus datar (flat-bar). Beberapa model yg sering dijumpai adalah sepeda dengan body/frame balap atau MTB yang menggunakan stang flat-bar. Kalo model frame MTB, biasanya selain stangnya flat, juga dikombinasi dengan ban yang relatif kecil.

4. Commuter

Sepeda jenis ini sangat berbeda dengan jenis-jenis sebelumnya yang rata-rata bermodel MTB atau sepeda balap. Jenis ini dikhususkan untuk kegiatan sehari-hari baik pergi ke kantor, sekolah, belanja, pasar dll. Model ini berukuran frame dan roda lebih besar, biasanya juga dilengkapi dengan boncengan belakang, tas bagasi belakang dan keranjang depan stang. Sebagian besar modelnya tidak menggunakan suspensi meskipun beberapa seri terbaru sudah ada yang menerapkan suspensi depan dengan model2 seperti MTB.

5. Fixie

Sepeda fixie merupakan singkatan dari Fix-gear,... artinya gear belakang sepeda hanya ada satu speed. Sepeda ini diunggulkan karena ringan, dan ringkas,.... sangat ideal untuk gowes di jalanan kota2 yg datar.

6. Folding Bike/Sepeda lipat

Ciri khas sepeda ini berukuran mini, bisa dilipat-lipat hingga memudahkan untuk masuk ke tas koper maupun bagasi mobil. Fungsi sepeda ini mirip dengan commuter, hanya bentuk dan ukurannya saja yang lebih kecil dan ringkas. Bagi yang senang bawa-bawa sepeda kemana-mana, model ini cocok untuk dipilih. Model ini khusus untuk nyepeda di jalan mulus perkotaan, jangan coba-coba melewati jalan yang extreme kalao tidak ingin sepeda ini "melipat" dengan sendirinya :)

Nah, ternyata banyak khan jenis-jenis sepeda itu,... silahkan pilih yang sesuai dengan kebutuhan anda, selamat bersepeda….

Minggu, 15 Maret 2009

Cross Country


Pada hari minggu (15 maret 09), anggota FCC dari mahasiswa S2 melakukan cross country. Kegiatan diawali dengan bersepeda naik ke pos Pakem via jalur umum (jalan aspal), kemudian dilanjutkan masuk ke medan off road melewati tepi sawah, tengah hutan, hingga menyeberang sungai. Perjalanan yang seru,.... tertarik tantangan ini? ayo gabung di FCC Tour selanjutnya.

Minggu, 04 Januari 2009

Tour Tahun Baru ke Borobudur


Dalam rangka menyemarakkan tahun baru 2009, Tim FCC mengadakan tour pada tanggal 1 Januari 2009 dengan tujuan akhir Candi Borobudur. Tim terdiri dari 20 orang, start pukul 07.00 wib dari lapangan Denggung Sleman.
Rute yang ditempuh menggunakan jalan propinsi (Jogja-Semarang). Sampai kota Muntilan mengambil jalan bypass tembus ke Candi Mendut dan diteruskan ke Candi Borobudur. Jarak yang ditempuh sekitar 40 km dengan waktu tempuh 1,25 jam karena jalanan konsisten menanjak terus sejak mulai berangkat.

Setelah beristirahat sejenak, dan ambil foto bareng, perjalanan diteruskan dengan mengambil rute yang berbeda. Rute pulang dipilih melalui jalan Borobudur - Wates. Ternyata trek yang dipilih memberikan lebih banyak tantangan berupa tanjakan dan turunan yang lebih ekstrem. Sampai di Kalibawang, tim beristirahat di warung tepi Saluran irigasi Vanderwijk dengan menu spesial ikan wader, mak Nyuss....

Perjalanan dilanjutkan dengan memilih jalur menyusuri Selokan Mataram hingga sampai di Jogja. Perjalanan pulang menempuh jarak sekitar 50 km dengan waktu tempuh yang lebih lama, sekitar 2 jam. Hal ini disebabkan tim harus sering berhenti sejenak karena ada salah satu anggota yang mengalami kram pada kedua pangkal paha-nya. Kendala tersebut tidak menyurutkan tim untuk meneruskan perjalanan hingga finish.

Pengalaman yang luar biasa..... dan ditunggu tantangan berikutnya.....

Senin, 27 Oktober 2008

Jogja Lautan Sepeda


Pagi ini ribuan pesepeda memadati Alun-alun Utara Yogyakarta dalma sebuah spirit Launching SEGOSEGAWE. dalam acara yang menghadirkan Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X diikuti berbagai komunitas pesepeda mulai dari anak SD, SMP, SMA/K juga dari kalangan, TNI, Polri, PNS Kota maupun Propinsi selain dari berbagai komunitas pesepeda di Yogyakarta.

Dalam acara yang juga dihadiri oleh Nurhayati, atlit pesepeda peraih medali emas PON 2008 KALTIM tersebut sultan secara resmi melaunching SEGOSEGAWE dengan membunyikan bel sepeda, beliau juga menyampaikan pesan "Semoga program hari ini bias berkembang lebih lanjut di waktu-waktu mendatang, Selamat bertugas, Selamat bersepeda" yang disambut riuh gemuruh tepuk tangan pesepeda. Di lain pihak penggagas SEGOSEGAWE, H, Herry Zudianto yang juga Walikota Yogyakarta mengharapkan agar gerakan bersepeda ini dapat menjadi bagian dari keistimewaan dari Yogyakarta, karena budaya bersepeda merupakan ciri khas keistimewaan Jogja itu sendiri.

Selanjutnya para pesepeda melanjutkan perjalanan ke sekolah maupun kantor masing-masing.

Mari kita jadikan Kota Yogyakarta sebagai daerah endemi virus bersepeda.


Sumber : http://segosegawe.jogja.go.id/

Manfaat bersepeda

Kita pasti ingat, dulu sekali, generasi kakek-nenek kita kerap menggunakan sepeda pancal alias sepeda onthel sebagai alat transportasi. “Guru Oemar Bakri”, yang bermodal sepeda kumbang, pun melaju di jalanan berlubang, berangkat ke sekolah untuk mengajar ilmu pasti.

Namun sekarang, tampaknya kejayaan sepeda jengki dan sepeda unta sebagai alat transpotasi usai sudah. Mengayuh pedal tak lagi identik dengan berangkat kerja dan rutinitas resmi lainnya, tapi olahraga, dan belakangan rekreasi. Banyak orang menggenjot sepeda roda dua untuk membakar kalori, menurunkan berat badan, mengecilkan perut buncit, atau merampingkan lingkar pinggang yang tidak mau diajak kompromi.

“Dulu perut saya gendut. Tapi kini setelah rajin bersepeda, enggak gendut lagi,” aku Dasuki sambil menunjukkan perutnya yang oke punya. Wiraswastawan yang tinggal di Depok itu menambahkan, “Sekarang, kalau enggak sepedaan, badan malah rasanya enggak enak, pegel-pegel gitu.” Dasuki jelas tidak sedang melebih-lebihkan pengakuannya.

Sebagai olahraga, bersepeda memang bisa diandalkan. “Ia punya dua fungsi sekaligus, endurance dan strength training,’ kata dr. Nani Cahyani Sudarsono, Sp.KO, pengajar pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Kalau sudah pakar yang berbicara, berarti Dasuki tak membual to.

Two in one

  • Berdasarkan fungsinya, olahraga dibagi menjadi dua kelompok besar.

Kelompok pertama, olahraga yang melatih ketahanan jantung dan paru-paru. Ini biasanya disebut olahraga endurance. Contoh paling gampang yaitu senam aerobik, joging, dan jalan kaki. Latihan-latihan ini masuk kategori endurance karena membakar kalori dengan disertai peningkatan aktivitas jantung memompa darah, serta aktivitas paru-paru menyuplai oksigen.

Kelompok kedua. Olahraga yang melatih otot-otot tertentu. Biasanya dikenal sebagai strength training. Contohnya, latihan mengangkat dambel. Fokus latihan ini otot-otot lengan.

Kalau ditimbang-timbang menurut pengelompokan itu, kegiatan bersepeda jelas masuk kategori keduanya. Soalnya, dengan mengayuh pedal, vaskularisasi dan oksigenasi meningkat. Jantung pun memompa lebih aktif, paru-paru bekerja lebih giat. Di samping itu, saat menggenjot pedal dengan kuat, otot-otot paha dan sekitarnya juga bisa sekaligus terlatih.

“Kalau misalnya jalannya santai dengan kecepatan sedang di tempat yang datar, artinya kita sedang melatih daya tahan jatung, paru-paru. Tapi kalau lewat jalan menanjak. kita ‘kan butuh kekuatan ekstra. Ini bisa berfungsi sebagai strength training,” papar Nani. Hanya saja, Nani setuju, otot yang dilatih terbatas pada otot paha dan sekitarnya saja. “Kalau mau ngelatih otot lengan, ya kurang optimal,” timpalnya.

Selalu pegang kendali

  • Selain kelebihan itu, menurut Nani, bersepeda juga termasuk latihan aerobik kendali yang relatif mudah dikendalikan. Maksud urusan kendali ini tak ada sangkut-pautnya dengan kemampuan mengendalikan setang alias kemudi sepeda.

“Mudah dikendalikan” itu artinya intensitas latihan bisa diatur sesuai kebutuhan. Misalnya, jika merasa terlalu enteng, Anda bisa meningkatkan kecepatan kayuhan pedal. Jika sudah ngos-ngosan, Anda bisa memperlambat sesuai kebutuhan. Ini berbeda, misalnya, dengan senam aerobik. Meskipun capek, biasanya pesenam tetap mengikuti apa pun yang dilakukan instrukturnya. Termasuk saat instrukturnya melompat-lompat. Mau tak mau, ya harus mau.

Itu sebabnya, pesenam sulit mengendalikan intensitas latihan. Pada olahraga bersepeda, dijamin hal seperti itu tidak terjadi. Pesepeda bisa mengatur intensitas genjotan kapan saja mau. Meski demikian, masih menurut Nani, pesepeda harus tetap mengikuti aturan umum dalam berolahraga: harus dimulai dengan pemanasan dan diakhiri dengan pendinginan.

“Saat baru mulai, jangan langsung pakai kecepatan tinggi. Begitu pula kalau sudah selesai, jangan langsung berhenti, tapi kurangi kecepatan sedikit demi sedikit,” sarannya. Dasuki sependapat dengan aturan ini. “Sebelum bersepeda, kita biasanya stretching otot dulu. Kalau enggak pemanasan dan langsung lewat tanjakan, kadang mata bisa berkunang-kunang, kadang paha atau betis sampai kram," katanya.


Tulisan dikutip dari http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0508/24/125754.htm

Tour ke Pantai Depok

Pada tanggal 20 Juli 2008, FCC melakukan tour ke Pantai Depok (sebelah barat pantai Parangtritis). Start dimulai dari kampus UGM dengan menempuh jarak 37 km. Tour diikuti oleh 38 peserta (wanita-nya cuman 1 orang). Selain anggota FCC peserta lain juga ada yaitu Om Yossi, mekanik sepeda paling handal di Jogja. Setelah sampai di pantai Depok, FCC langsung disambut dengan menu seafood yang telah disiapkan di salah satu warung,....mantaap.... mak nyuuss....

FCC dikunjungi B2W Jogja



Pada hari Jum'at, 11 Juli 2008, FCC mendapat kesempatan berjumpa dengan komunitas Bike to work (B2W) chapter Jogja dalam kegiatan "Sahabat Sepeda". Program Sahabat Sepeda dari B2W merupakan kegiatan mengunjungi dan silaturahmi dari komunitas B2W Jogja ke "kantong-kantong" komunitas pe-sepeda di Jogja.
Pada kesempatan tersebut, dihadiri oleh 30-an anggota FCC dan 40-an anggota B2W Jogja. Acara disambut oleh Dekan FKT UGM, Prof. Dr. M. Na'iem, M.Agr.Sc dilanjutkan dengan sarapan bersama, diskusi program-program bersama dan diakhiri dengan melakukan konvoi keliling kampus UGM dengan bersepeda,...... mantap.... thank's B2W Jogja.....